Selamat Pagi Dunia, begitu yang saya ucapkan pada pagi hari ini “dengan menghelakan nafas panjang”. Waktu berjalan begitu cepat, hari demi hari kita lewati dengan rasa suka dan duka, tak terasa kita sudah mendekati di penghujung tahun 2011, dan akan memasuki tahun 2012.

Dalam posting kali ini penulis membahas tentang Perayaan Tahun Baru.

Tahun baru adalah suatu perayaan di mana suatu Negara merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyai kalender tahunan semuanya mempunyai perayaan Tahun Baru. Seperti ditahun-tahun sebelumnya Negara Indonesia kita ini merayakan tahun baru, mungkin bisa di katakan sudah menjadi tradisi bagi Negara kita, di karenakan Indonesia memakai kalender Masehi, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia, jadi tahun baru di Indonesia jatuh pada tanggal 1 Januari.

Bagi teman-teman sekalian pasti sudah menunggu dan menantikan saat-saat pergantian tahun tersebut. Taukah kalian asal usul terbentuknya Tradisi tahun baru Masehi tersebut..?disini saya akan mengulas sedikit sejarah asal muasal tahu baru Masehi. Masehi berasal dari bahasa Arab (al masiihi) yang berarti “yang membasuh,” “mengusap” atau “membelai.”, Tahun Baru Masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Seperti yang di beritakan pada harian Kompas bahwa Kepolisian Daerah Metro Jaya mengerahkan 5.889 personel pada saat malam perayaan tahun baru. Personel kepolisian dikerahkan untuk mengantisipasi terganggunya arus lalu lintas dan keamanan.

“Pada malam perayaan tahun baru nanti kami mengerahkan 5.889 disebar di seluruh wilayah hukum Polda Metro Jaya,” ungkap Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Komisaris Besar Agung Budi Maryoto, Rabu (28/12/2011), di Mapolda Metro Jaya.

Personel yang disiapkan dalam Operasi Lilin Jaya 2011 tersebut merupakan gabungan dari Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Polres, dan Polsek. Selain itu, personel pengamanan juga akan mendapat bantuan 90 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI), 1.500 personel Satpol PP, dan 500 personel Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Sebanyak 124 pos pengamanan (pospam) juga disebar di setiap titik keramaian.

Dari harian kompas tersebut dapat kita simpulkan kenapa kepolisian Metro Jaya mengerahkan pasukan untuk mengamankan pusat rekreasi pada malam tahun baru, selain mengatur jalur lalu-lintas pusat keramaian agar tidak terjadinya macet di jalan-jalan, pihak kepolisian juga mengantisipasi terjadinya bentrok/ricuh antar individu dan juga warga, di karena pada saat malam tahun baru masyarakat semua berkumpul di pusat rekreasi yang akan mengadakan malam tahun baruan, dari tiap-tiap individu kita tidak mengetahui apa yang mereka pikirkan, yang pasti niat buruk dan baik itu ada.

Sebenarnya kalau kita kaitkan dalam ajaran Islam perayaan malam tahun baru itu tidak di ajarkan dalam agama (Islam), karena hari Raya Islam hanya ada dua [1] dalam setiap tahunnya, yaitu hari Raya Iedul Fitri dan hari Raya Iedul Adha. Seperti yang di katakan Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah menjelaskan bahwa perayaan tahun baru itu termasuk merayakan ‘ied (hari raya) yang tidak disyariatkan karena hari raya kaum muslimin hanya ada dua yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. Menentukan suatu hari menjadi perayaan (‘ied) adalah bagian dari syari’at (sehingga butuh dalil) [2].

Tapi kembali kepada niat masing-masing, apa tujuan dan kemana arah kita merayakan tahun baru tersebut, tak perlu di jelaskan mana yang baik dan mana yang buruk, renungkan berdasarkan pemikiran kalian masing-masing.

Disini penulis tak ada niat menganjurkan atau melarang bagi teman-teman untuk merayakan Tahun Baru, karena saya sebagai penulis tidak begitu mendalami tentang Ilmu-ilmu Hadist-hadist dan Sunnah, saya juga takut salah dalam penulisan kali ini dan takut akan menyebabkan bid’ah bagi diri saya (penulis) sendiri.

Mari kita sambut hari-hari esok, bulan-bulan berikutnya, dan Tahun-tahun yang akan datang dengan lafas Basmalah, niatkan dalam hati bahwa kita akan merubah pola pikir, renungkan sejenak apa-apa yang kita lakukan di hari-hari kemarin,bulan dan tahun-tahun yang telah terlewatkan,akan perbuatan yang kita lakukan, dan tak akan mengulangi kembali perbuatan yang buruk, saling mengingatkan satu sama lain dalam hal kebaikan.

Mungkin itu saja yang penulis dapat sampaikan dalam artikel kali ini tentang pembahasan Perayaan Tahun Baru, dalam penulisan artikel ini penulis sangat berhati-hati, karena mengaitkan dengan Agama, apa bila ada salah-salah kata mohon di maafkan dan di ingatkan karena kesalahan itu datangnya pada diri saya sendiri (penulis), dan apabila ada kebenaran dalam tulisan ini itu datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’alla.

 
 
 
 

[1]. Anas bin Malik mengatakan, “Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, “Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha”.

HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[2]. Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah menyampaikan hal ini saat sesi tanya jawab-Durus Mukhtashor Zaadil Ma’ad, 20 Muharram 1432 H, di Riyadh-KSA.

 
 
 
 
 
 

Referensi Artikel Wikipedia,  Kompas, dan Web sebelah